MENCARI TEMAN SEJATI
(2007/02/10)
Usiaku sudah menginjak kepala duapuluh hari ini. Dalam hitungan tahun yang tak seberapa nanti, mungkin aku sudah tak lagi sendiri. Seorang teman yang selalu bisa menemani akan segera aku cari. Walau hingga ke ujung yunani, segera akan aku jemput dia untuk kembali.
Disisi hati, didalam relung gelapnya malam hari, mengenang, terbayang, tak mau pergi. Di ujung sana mata terpejam lagi, bertabur indah penuh bintang nabi. Oh.., mentari. Tunggu sejenak untuk aku melayang menari. Mencari….
~~~ ~~~ ~~ ~~~
Woy, woy… bangun woy. Dah siang. Buruan mandi. Kita ujian hari ini. Ini catetan kamu yang gua pinjem semalem tadi. Udah ya, gua mo berangkat niy. Nyari tempat strategis buat pertahanin nasib nanti. Malaikat pengawas hari ini katanya terkenal keji. Sekali nyontek bakalan dilempar mati. Tahun depan satu-satunya jalan untuk kembali. Jadi gua harus usaha’in dengan penuh strategi. Oce boss, gua pergi. Bye…
Seribu langkah angin. Ga’ pake mandi, hanya sempat cuci muka dan gosok gigi, itu juga cuma jadi syarat kalo aku sudah bangun pagi. Daripada harus kembali tahun depan nanti, aku relakan badan bau kurasa wangi untuk hari ini.
Diujung pintu ruang ujian hari ini. Malaikat pengawas berlenggok tegar seangkuh kepala ruang Napi. Satu, dua, tiga. Intuisi seribu bumi mengalir indah pesona alam penuh ilmu nurani, di alam sastra jiwa sejati. Akulah sang abdi. Penguasa ilmu secuil kecil karunia Ilahi. Hingga coretan kertas sejentik api, penuhi lembaran ujian hari ini. Selesai sudah hari ini. Aku lega melangkah pergi tinggalkan ruang penuh sesak tak berpendingin ini. Aku kembali…
~~~ ~~~ ~~~
Teman sejati. Mungkin kah ada. Ketika aku harus segera pergi. Menarik nafas yang sering aku tak tahu sudah sekian kali. Terbaring di kasur putih, berselimut loreng berbujur hitam putih. Diruang sempit bersanding orang-orang yang menunggui. Setiap tiga puluh menit hadir dua orang berbaju serba putih dengan aerophone khusus yang hanya dimiliki orang kesehatan kami. Setiap tiga jam berikutnya ia menyuntik lenganku dengan serum yang bening saja aku ketahui. Entah itu virus, anti biotic atau vitamin, aku juga tidak begitu mengerti.
Kini, aku telah kembali. Menantang dunia. Sedari pagi hingga malam menemani. Seluruh bintang selalu menyapa aku penuh arti. Bersanding berbalut senyum rekan tempat berbagi. Gelak merdu cerita suka berapai-api. Aku tertawa.
Tawa suka, tawa duka. Tak akan pernah ada yang tahu. Semua ada dihatiku. Teman berbagi yang sejati, sebenarnya masih aku cari-cari. Untuk hidup bersama sehidup semati. Berbagi hari penuhi cerita duka juga suka hati. Dikaulah calon istri.
Kata orang, jika ingin mencari teman sejati maka harus lah sehati. Dua jiwa yang pasti berbeda harus dilebur untuk sehati. Terkadang hancur hati, terkadang juga beriring berjalan seindah matahati.
Segala perbedaan. Semua jurang pemisah. Semua dan semuanya. Adalah untuk saling melengkapi. Walau terkadang jurang perbedaan itu lebih besar dari kemampuan untuk saling melengkapi. Tapi itulah kehidupan.
Kata mama. Jika ingin mencari teman sejati, carilah yang tak jauh berbeda dengan dirimu dan keluargamu. Dari semuanya. Kemampuan intelektual keluarga besarnya, keadaan ekonomi keluarga besarnya, tingkat religius keluarga besarnya, dan masih banyak lagi yang lainya. Karena, setelah kau menyatakan untuk mengambilnya sebagai teman sejatimu, maka sesungguhnya ia adalah teman bagi seluruh keluarga besarmu.
Mama…, tapi aku ingin temanku sendiri mama. Teman yang mau mengerti. Teman yang mau hidup seiring hati ini. Dia. Dia, yang mau menemani ketika tengah malam gelap menyelimuti untuk bersama menengadahkan rendah hati ini. Dia, dia yang bersedia berkorban bagi hati yang menangis sedih. Dia, dia yang tak pernah berat hati hidup sederhana, berpuasa, bersedekah dan berhijrah.
Dia. Dia, dia, mama. Tolong carikan dia untuk ku mama. Katakana padanya bahawa aku mencarinya. Dia, dia yang “cerdas”, yang lebih bisa mengerti. Dia, dia yang “kaya hati”, yang mau berbagi. Dia, dia yang berkata lembut seperti tutur kita di keraton Solo putri. Dia, dia yang tak pernah habis senyumnya untukku mama. Dia, dia yang “rendah hati”, yang bisa membelai hati. Dia, dia mama. Hidup sederhana dan apa adanya. Tak pernah memaksa.
Mama, maukah engkau mencari nya untukku mama.
The end.
Created by: Fajar Rulhudana
Note: tulisan yang aku tulis adalah karya. Bukan curhat atawa yang aneh2. so, berbaik sangka lah. . Oce…!!!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
Ijin pinjam tulisannya.
Makasih sebelumnya
Post a Comment